Jumat, 16 Desember 2011

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS SISWA SMP

Ririn Kurniawati (0807552)
Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang memiliki peranan penting bagi disiplin ilmu yang lain dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena itu, mata pelajaran ini selalu diberikan di setiap jenjang pendidikan. Pemberian mata pelajaran matematika ini tentu ada tujuannya, menurut Puskur (2002) tujuan pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efisien dan efektif. Selain itu menurut Soedjadi (2004) bahwa pendidikan matematika memiliki dua tujuan besar yang meliputi (1) tujuan yang bersifat formal yang memberi tekanan pada penataan nalar anak serta pembentukan pribadi anak dan (2) tujuan yang bersifat material yang memberi tekanan pada penerapan matematika serta kemampuan memecahkan masalah matematika.
Sehingga dapat dikatakan bahwa salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis. Pentingnya matematika dalam kemampuan berpikir logis faktanya belum tercapai. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Suryadi (2005) yang menemukan bahwa siswa kelas dua SMP di kota dan kabupaten Bandung mengalami kesulitan dalam kemampuan mengajukan argumentasi serta menemukan pola dan pengajuan bentuk umumnya. Sedangkan menurut Albrecht (Saragih;2004) dasar pemikiran, argumentasi, kesimpulan atau hasil yang dicapai dengan menerapkan argumentasi pada dasar pemikiran adalah suatu indikator seseorang sampai pada berpikir logis. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir logis matematika pada siswa kelas dua SMP masih rendah.
Rendahnya kemampuan berpikir logis matematika pada siswa kelas dua SMP ini tidak lepas dari  faktor minat dan sikap positif terhadap matematika yang kurang. Seperti yang dikemukakan oleh Begle (1979) bahwa siswa yang hampir mendekati sekolah menengah mempunyai sikap positif terhadap matematika yang secara perlahan menurun tidak seperti pada permulaan mereka berkenalan dengan matematika seperti yang dikemukakan oleh Ruseffendi (1988) bahwa anak-anak menyenangi matematika hanya pada permulaan mereka berkenalan dengan matematika yang sederhana.
Siswa kelas VIII SMP juga masih mengalami kesulitan dalam pembelajaran materi lingkaran. Hal ini berdasarkan pengamatan awal Markhamah (2007) yang menemukan bahwa nilai ketuntasan belajar materi pokok lingkaran siswa SMPN 15 Semarang tahun pelajaran sebelumnya adalah 6,5. Hasil tersebut masih kurang dari standar ketuntasan belajar minimum (SKBM) yaitu 6,8. Siswa kesulitan dalam memahami besaran-besaran pada lingkarana khususnya luas lingkaran dan luas juring. Jadi kelas tersebut perlu menerapkan model pembelajaran khusus dalam meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa.
Seperti yang dikemukakan oleh Dimyati (Markhamah, 2007) “ dalam proses pembelajaran ada empat komponen yang penting yang berpengaruh bagi keberhasilan belajar siswa, yaitu bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, serta guru sebagai subyek pembelajaran”. Sehingga diperlukan model [pembelajaran dan bahan ajar yang baik yang dapat meningkatkan keberhasilan belajar siswa.
Menurut Widyantini (2006) mata pelajaran matematika  perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemapuan bekerja sama. Model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama dalam kelompok adalah model pembelajaran kooperatif . Menurut Akinbobola (Azizah, 2007:) model pembelajaran kooperatif dianggap sebagai model pembelajaran yang efektif .Hal ini disebabkan oleh pembelajaran kooperatif merupakan model belajar kelompok yang terdiri dari berbagi jenis latar belakang, jenis kelamin, tingkat kemampuan yang berbeda dari tiap siswa yang mana mereka belajar bersama-sama dalam satu kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama yang diinginkan
Banyak bentuk inovasi dari model pembelajaran ini salah satunya adalah Numbered Heads Together (NHT). Model NHT ini menekankan pada melatih siswa agar mampu berpikir dan bekerja secara berkelompok. Menurut Widyantini (2006) pada umumnya NHT digunakan untuk melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran. Hubungan pemahaman dengan kemampuan berpikir logis seperti dijelaskaan oleh Mukhayat (Usydiana;2009) bahwa kemampuan berpikir logis dalam pembelajaran matematika perlu dikembangkan karena dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan pemahaman. Hal ini diperkuat pula dengan hasil penelitian Soemarmo (2005) yang yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan penalaran logis siswa dengan kemampuan pemahaman siswa. Sehingga metode NHT cocok digunakan untuk memfasilitasi siswa dalam mengeksplor kemampuan berpikir logisnya.  
DAFTAR PUSTAKA
Begle, E. G. (1979). Critical Variables in Mathematics Education. Washington D.C: The Mathematical Association of America and NCTM.
Markhamah, Siti. (2007). Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Quantum Teaching pada Pokok Bahasan Lingkaran Siswa Kelas VIII A Semester II SMP Negeri 15 Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007. Skripsi UNNES Semarang : tidak diterbitkan.
Puskur. (2002). Kurikulum dan Hasil Belajar: Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Balitbang Widyantini.
Ruseffendi, H.E.T. (1988). Pengantar kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.
Saragih, Sahat (2006). Menumbuhkembangkan Berpikir Logis dan Sikap Positif terhadap Matematika melalui Pendekatan Matematika Realistik. Jurnal pendidikan dan Kebudayaan.Depdiknas Badan Penelitian dan Pengembangan volume 12 No.61.
Sarhani. (2006). Desain Pengembangan Bahan Ajar Matematika Interaktif  Tipe Simulasi untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis dan Krtitis Siswa SMA. Skripsi UPI Bandung: tidak diterbitkan.
Soedjadi, R. (2004). PMRI dan KBK dalam Era Otonomi Pendidikan. Buletin PMRI. Edisi III, Jan 2004. Bandung: KPPMT ITB Bandung.
Sumarmo, U. (2005). Pengembangan Berfikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP dan SMU serta Mahasiswa Strata Satu (S1) melalui Berbagai Pendekatan Pembelajaran. Laporan Penelitian Lemlit UPI.: Tidak Diterbitkan
Suryadi, D. (2005). Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung serta Pendekatan Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP. Disertasi Doktor pada PPS UPI:Tidak Diterbitkan.
Usdiyana, Dian. (2009). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Logis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Matematika Realistik. Jurnal Pengajaran MIPA Vol 13 No. 1 Aprill 2009: Bandung
Widyantini.(2006). Model Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kooperatif.Modul Paket Pembinaan Penataran.Depdiknas. Yogyakarta



 

1 komentar:

  1. saya mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia
    Artikel yang menarik, bisa buat referensi ini ..
    terimakasih ya infonya :)

    BalasHapus